Jumat, 02 Februari 2018

Budi dimana ? Pekerti kemana ?


Dunia Pendidikan di negri ini kembali berduka, Kamis 1 Februari 2018 Seorang Guru Honorer yang mengampu mata pelajaran Seni Rupa meninggal karena di aniaya oleh muridnya sendiri. Bagi kami selaku individu yang juga berkecimpung di dunia pendidikan duka yang kami rasakan bukan hanya karena Gugurnya “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang masih muda akan tetapi karena hilangnya karakter Budi Pekerti Luhur dari siswa. Entah hanya dia seorang yang tidak berbudi pekerti atau masih banyak siswa yang lain yang perangainya sama, yang pasti dengan fenomena seperti ini dunia pendidikan di negeri ini tergambar “gagal” mencetak generasi yang diharapkan. Terlepas dari mewakili atau tidak mewakili siswa di negeri ini,  siakap dan prilaku  siswa yang membunuh gurunya tersebut. Banyak pihak yang kaget sekaligus heran bahkan pada akhirnya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya Pendidikan di negeri ini, bagaimanakah pola penanaman Karakter Budi Pekerti yang Luhur di sekolah. Mengapa seolah para siswa di jaman sekarang sudah tidak lagi berbudi pekerti.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti budi pekerti adalah tingkah laku, akhlak, perangai, watak. Secara etimologi, istilah budi pekerti ini merupakan gabungan 2 kata yaitu budi dan pekerti. Kata budi sendiri memiliki arti sadar, nalar, pikiran atau watak. Sedangkan pekerti memiliki arti perilaku, perbuatan, perangai, tabiat, watak. Kedua kata ini memiliki kaitan yang sangat erat karena pada dasarnya budi seseorang itu ada dalam batin manusia dan tidak akan tampak sebelum dilakukan dalam bentuk pekerti (perbuatan). Ki Sugeng Subagya (Februari 2010) mengartikan istilah budi pakerti sebagai perbuatan yang dibimbing oleh pikiran; perbuatan yang merupakan realisasi dari isi pikiran; atau perbuatan yang dikendalikan oleh pikiran. Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1997) mengartikan istilah budi pekerti sebagai sikap dan prilaku sehari-hari, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun bangsa yang mengandung nilai-nilai yang berlaku dan dianut dalam bentuk jati diri, nilai persatuan dan kesatuan, integritas, dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem moral, dan yang menjadi pedoman prilaku manusia Indonesia untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan bersumber pada falsafah Pancasila dan diilhami oleh ajaran agama serta budaya Indonesia. Dari beberapa pengertian yang di kemukaan dapat disimpulkan bahwa budi pekerti merupakan prilaku yang menunjukan watak seseorang atau individu yang diukur kebaikan atau keburukan berdararkan norma-norma.

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang diharapkan dapat mencetak pribadi yang berbudi pekeri luhur. Khusus Pembelajaran di sekolah berkenaan dengan budi pekerti sebenarnya sudah sangat jelas termaktub baik secara eksplisit maupun implisit, bahkan dua kurikulum terakhir yaitu KTSP dan Kurtilas mengharuskan munculnya penanaman Karakter dalam kurikulum secara tertulis. Melihat hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa akhir-akhir ini banyak muncul fenomena yang mencerminkan hilangnya budi pekerti anak sekolah. Dimanakah letak kesalahannya, secara teori pemerintah mengharuskan pendidikan berkarakter, guru di tuntut tidak hanya mengajarkan aspek kognitif, akan tetapi penanaman sikap berbudi luhur seakan gagal karena kemunculan fenomena-fenomena tadi.

Keberhasilan sebuah pendidikan sejatinya bukan hanya tanggung jawab guru atau pihak sekolah saja, peran keluarga dan masyarakat juga turut mempengaruhi. R.M. Soewardi Soerjaningrat atau yang kita kenal Ki Hajar Dewantara, mengemukakan Sistem Tricentra dengan menyatakan, “Didalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yaitu alam – keluarga, alam – pergururan, dan alam – pergerakan pemuda”. Tricebtra atau Tri Pusat, semula dikemukakan Ki Hajar Dewantara pada Brosur Seri “Wasita” th. Ke 1 No.4, Juni 1935 yang isinya meliputi; Alam keluarga, Alam perguruan dan Alam pemuda. Namun kini dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan yang meliputi;  Keluarga, Sekolah dan Mesyarakat.

Belajar dari kasus meninggalnya Guru Honorer di Sampang oleh siswanya dengan mengkaitkan teori sistem Tricentra yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, pantaskah ketidakberhasilan mendidik siswa berbudi pekerti luhur disematkan pada pihak Guru atau Sekolah, kami rasa sungguh naïf kalau halnya demikian. Keberhasilan sebuah pendidikan tidak akan lepas dari peran Tiga Pusat Pendidikan yang saling bersinergi harmonis dalam menciptakan situasi pendidikan yang baik.

Diharapkan setiap pihak yang terlibat dalam pendidikan agar lebih menguatkan tekad untuk berperan aktif dalam pendidikan, agar jalan menuju tujuan pendidikan yang dicita-cita setiap insan manusia dapat segera terwujud. Dan berusaha memulai hal hal positif yang dapat membantu proses pendidikan sedini mungkin atau secepat mungkin. Serta tidak perlu menunggu yang lain sebaiknya dari unsur terkecil yaitu individu dan setiap individu inilah diharapkan menjadi sekumpulan orang yang peduli pada pendidikan, sekumpulan kecil ini diharapkan dapat mewarnai seluruh rakyat yang besar ini terhadap kesadarannya akan peran masing- masing dalam pendidikan. Dengan demikian untuk masa yang akan datang wajah pendidikan di negri kita tidak lagi dikejutkan dan tercoreng oleh kasus – kasus yang menodai nilai-nilai pendidikan itu sendiri.

Sumber berita :


x